SIAPAKAH ORANG YANG BERUNTUNG ?
ORANG YANG BERUNTUNG
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.
Dan mengingat nama Tuhannya, lalu mendirikan shalat." (QS. Al-A'la 87: 14-15)
Melalui ayat ini, Allah kembali mengingatkan manusia akan pentingnya penyucian jiwa melalui dzikir.
Pertanyaannya: di mana lagi kita bisa mendapatkan metode pembersihan jiwa tersebut jika bukan melalui jalan tarekat?
Namun, mengapa masih banyak manusia yang ingkar? Hal ini sering terjadi karena manusia lebih memilih kehidupan dunia yang fana, padahal akhirat jauh lebih baik, lebih utama, dan kekal.
Pengajaran dan ilmu agama memang baik, bahkan wajib untuk dipelajari. Namun, seringkali kita terlena dalam rutinitas belajar dan mengira bahwa menguasai teori adalah tujuan akhir. Sebagai contoh-bukan berarti hal ini salah-banyak orang mengira beragama cukup dengan fasih membaca Al-Qur'an dan mendalami hukum tajwid seolah itulah kewajiban utamanya.
Padahal, pada masa lalu, mempelajari tajwid bertujuan agar seseorang mampu membaca Al-Qur'an dengan benar, terutama sebelum terjemahan berbagai bahasa tersedia luas seperti sekarang. Memperindah bacaan memang dianjurkan demi menjaga kemuliaan ayat suci, namun kita perlu menyadari bahwa itu bukanlah inti terdalam dari beragama.
Hakikat beragama adalah kembalinya seorang hamba untuk "bertemu" dengan Tuhan. Inilah intinya. Tuhan memberikan metode melalui syariat dan tarekat sebagai petunjuk agar manusia senantiasa mengingat saat-saat kebersamaan dengan-Nya di alam ruh, jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia. Sayangnya, manusia seringkali lalai, sehingga Allah mengutus para nabi, dan para waliya mursyida yang sekarang sebagai pewaris kenabian, untuk terus memberikan peringatan.
Di tengah kesibukan dunia, kita tidak harus meninggalkan kewajiban duniawi, melainkan harus menyertainya dengan dzikir. Jadikanlah dzikir sebagai prioritas utama karena tempatnya berada di dalam hati. Dzikir inilah yang akan menjadi Furqan (pembeda), sehingga kita mendapatkan petunjuk untuk terhindar dari perbuatan maksiat maupun perbuatan yang sia-sia.
Secara bahasa, dzikir berarti mengingat Allah. Namun, banyak manusia mengalami kesulitan karena mereka belum pernah benar-benar mengenal atau "melihat" wujud Allah yang Mutlak,” sehingga kesulitan untuk dapat mengingatnya. Oleh karena itu, dibutuhkan dua metode yang menjadi satu kesatuan wajib:
1. Syariat merupakan dimensi lahiriah yang berfokus pada tata cara peribadatan dan amal perbuatan fisik sesuai hukum Islam. Pelaksanaannya merujuk pada bimbingan para ulama dan ustaz secara umum dengan berpedoman pada salah satu dari Empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali).
2.Tarekat merupakan dimensi spiritual yang berfokus pada pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan penguatan niat. Metode ini ditempuh melalui proses Talqin Dzikir di bawah arahan langsung seorang Guru Mursyid yang memberikan bimbingan khusus, intensif, dan berkesinambungan bagi para muridnya.
Secara harfiah, Tarekat adalah proses menata hati dari dalam, sehingga terpancar dari dzikir itu cahaya terang gemilang, sedangkan Syariat adalah bentuk perwujudan pengabdian tersebut di luar sehingga terpancar cahaya terang Adab dan Akhlak.
Maka Keduanya harus berjalan beriringan agar perjalanan spiritual menuju Allah menjadi sempurna.
Penanggung Jawab :
PERGURUAN 𝐃𝐀𝐑𝐔𝐋 𝐍𝐔𝐑 𝐇𝐔𝐃𝐀 𝐒𝐇𝐎𝐋𝐄𝐇𝐈𝐀𝐇
Komentar
Posting Komentar