URGENSI KEHARUSAN BERTAWASUL DAN BERWASILAH
Pentingnya tawasul dan berwasilah adalah fondasi utama dalam penghambaan agar jiwa mampu mencapai maqam wushul (sampai kepada Allah). Tanpa keduanya, segala doa dan amal ibadah seakan terombang-ambing tanpa arah kehilangan jalur dan koneksi suci menuju Sang Khalik.
Sebab, segala sesuatu yang tidak memiliki koneksi mustahil dapat diakses. Layaknya frekuensi yang terputus, ia akan membuat perangkat elektronik kehilangan fungsinya. Ini bukanlah sekadar perumpamaan atau kisah fiksi, melainkan realitas objektif dalam berinteraksi dengan Tuhan. Kita membutuhkan "saluran gelombang" yang disebut wasilah.
Bahkan para Nabi pun menempuh jalur ketersambungan ini. Maka benar adanya pepatah bijak: "Jika engkau ingin merasa dekat dengan Allah, maka dekatilah para ulama." Mereka adalah para penjaga tawasul, pribadi-pribadi yang sanad ruhaninya terus bersambung tanpa putus hingga ke sumber cahaya yang utama.
"Tawasul dan Wasilah adalah jembatan ruhani menuju Wushul. Tanpanya, amal dan doa hanyalah gema yang kehilangan arah. Layaknya frekuensi, tanpa koneksi yang tersambung pada cahaya para kekasih-Nya, jiwa kita akan sulit menemukan jalan pulang kepada-Nya."
Dasar Perintah Berwasilah
Dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 35, Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya..."
Koneksi ini dijaga dengan cara membersamai mereka yang sudah "tersambung" (para ulama dan kekasih Allah), sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 119:
dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (shadiqin)."
Wasilah seperti lampu yang tersambung ke sumber listrik utama. Meskipun lampu itu kecil, ia akan menyala terang selama kabelnya (sanad/wasilah) tidak terputus.
Karena pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang lemah. Kita butuh "pemandu" dan "perantara" yang frekuensinya sudah stabil untuk membantu menarik getaran jiwa kita yang masih penuh noda agar bisa selaras dengan keagungan Tuhan yang maha suci.
𝐃𝐀𝐑𝐔𝐋 𝐍𝐔𝐑 𝐇𝐔𝐃𝐀 𝐒𝐇𝐎𝐋𝐄𝐇𝐈𝐀𝐇
Komentar
Posting Komentar