TAREKAT SUATU KENISCAYAAN
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Rasulullah Muhammad SAW telah mentalkinkan Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, yang kemudian diteruskan kepada seluruh para sahabatnya.
Kalimat talkin yang mulia ini dikenal sebagai metode tarekat- Al-Jin ayat 16 (atau jalan spiritual) yang keberlangsungannya terus dijaga hingga hari ini.
Memang, pengajaran agung ini tidaklah dibukukan secara terang-terangan , dan juga tidak digembar-gemborkan di mimbar-mimbar publik. Hal ini dikarenakan esensi dari metode talqin adalah mentransferkan hakikat Kalimat Tauhid (Laa ilaaha illallah) secara langsung:
Dari Qalbu (hati nurani) Nabi ke Qalbu sahabatnya,
atau dari Qalbu Guru (Mursyid) ke Qalbu muridnya,
sehingga terwujudlah kesaksian tauhid yang hakiki (musyahadah) dalam jiwa.
Kemudian, dengan penuh hikmah, metode agung ini dikembangkan lebih lanjut oleh masing-masing Ulama Rabbani, yakni sang Mursyid. Inovasi ini bertujuan tunggal agar para Murid, yang sedang mengembara di jalan Ruhani, dapat menyerap pemahaman dengan mudah dan sepenuh hati, disesuaikan dengan khazanah spiritual perguruannya masing-masing,
Maka Tarekat bukanlah sebuah disiplin yang tertuang secara kaku dan terstandarisasi, berbeda dengan himpunan Hadis yang menjadi referensi universal. Meskipun tidak terpublikasi untuk konsumsi umum, tetap memiliki kitab yang tersimpan rapi dalam lingkungan perguruannya masing-masing. Kitab-kitab ini disusun dengan bahasa yang mempermudah pemahaman oleh para Guru Mursyid, sementara akarnya yang paling dalam dan suci tetap merujuk pada firman-firman Ilahi dari Al-Qur'anul Karim sebagai wahyu yang berkesinambungan menjadi Aktif dari yang pasif.
Maka metode Tarekat ini terus di kembangkan sejak zaman nabi sampai sekarang.
Berikut Kesaksian 4 Imam Mazhab
Bukti nyata dari pengakuan para Imam Mazhab terhadap urgensi Tasawuf/Tarekat dalam perjalanan menuju kebenaran sejati
1. Imam Abu Hanifah (85-150 H)
(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab hanafi)
Imam Abu Hanifah berkata: "Jika tidak karena dua tahun, Nu'man telah celaka. Karena 2 tahun saya bersama Imam Ja’far as-Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual (tasawuf) yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar.“
(Jalaluddin as-Suyuthi di dalam kitab Durr al-Mantsur)
2. Imam Maliki (93-179 H)
(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid Imam Ja’far as-Shadiq ra. berpendapat:
"Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelajari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.“
(Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).
3. Imam Syafi'i (150-205 H)
(Muhammad bin Idris - Ulama besar pendiri mazhab Syafi'i) Beliau berkata: "Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf." (Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, hal. 341)
4.Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) berkata: "Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka."
(Ghiza al-Albab, vol. 1, hal. 120; Tanwir al-Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al-Kurdi)
Beliau juga mengungkapkan:
Jika saja aku tidak ada dalam bimbingan Guruku (Mursyid), maka aku akan celaka. Aku mati dalam membawa dosa yang sangat besar.”
Adapun Guru Mursyidnya Imam Ahmad bin Hanbal ra. yakni Syaikh Abi Hamzah al-Baghdadi.
Begitu pula kesaksian dari Imam Ahmad bin Suraiz ra. yang mengakui dan mendapat bimbingan dari Wali Mursyidnya yaitu Syaikh Abil Qasim Junayd al-Baghdadi ra.
Adapula kisah Imam Ghazali ra.yang mendapat Wali Mursyid lewat adiknya, yakni Imam Ahmad Ghazali ra. dan berguru kepada Wali Mursyid tersebut. Padahal keadaan Imam al-Ghazali ra. Pada masa itu sudah mendapat gelar “Hujjatul Islam”.
Adalagi Syaikh Izzudin ra. yang mendapat gelar “Sulthonul Ulama” yang berpendapat bahwa Beliau tidak akan mengenal Islam yang sempurna kalau tanpa adanya bimbingan Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili.
Jika kedua Ulama besar ini (Imam Ghazali dan Imam Izzudin) mengakui perlunya bertarekat, maka apalagi kita yang sangat awam dan ahli maksiat.
Oleh karena itu, bagi setiap jiwa yang merindukan kesempurnaan ibadah dan keselamatan di hadapan-Nya, menempuh jalan ruhani (Tarekat) adalah suatu kewajiban dan keniscayaan.
Komentar
Posting Komentar