AMANAH AGUNG YANG DI PIKUL MANUSIA SEMPURNA
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ุงَِّูุง ุนَุฑَุถَْูุง ุงْูุงَู َุงَูุฉَ ุนََูู ุงูุณَّู ٰٰูุชِ َูุงْูุงَุฑْุถِ َูุงْูุฌِุจَุงِู َูุงَุจََْูู ุงَْู َّูุญْู ََِْูููุง َูุงَุดََْْููู ู َِْููุง َูุญَู َََููุง ุงْูุงِْูุณَุงُูۗ ุงَِّููٗ َูุงَู ุธَُْููู ًุง ุฌًَُْูููุงۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul dan mereka merasa Takut dari padanya, dan di pikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,"
(Al-Ahzab 33: Ayat 72)
Amanah Agung Sang Insan itulah Tajalli
Tajalli yang hakiki adalah saat merasakan kesadaran bahwa diri sejati ini adalah manifestasi langsung dari Kehadiran Ilahi. Kesadaran inilah yang menjadi inti dari amanah agung yang ditawarkan.
Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang mengemban amanah Tajalli yang begitu besar sebuah kemuliaan dan kesempurnaan hakiki sebagai seorang hamba.
Namun, untuk mencapai pemahaman dan penghayatan mendalam atas kesadaran ini, seseorang wajib menempuh Suluk (perjalanan spiritual) dalam bimbingan Tarekat (jalan spiritual).
Melalui perjalanan ini, barulah seseorang akan memahami makna sesungguhnya dari hakikat dirinya,
ุชُุณَุจِّุญُ َُูู ุงูุณَّู ٰٰูุชُ ุงูุณَّุจْุนُ َูุงْูุงَุฑْุถُ َูู َْู َِِّْููููۗ َูุงِْู ู ِّْู ุดَْูุกٍ ุงَِّูุง ُูุณَุจِّุญُ ุจِุญَู ْุฏِูٖ َِْٰูููู َّูุง ุชَََُْْููููู ุชَุณْุจِْูุญَُูู ْۗ ุงَِّููٗ َูุงَู ุญَِْููู ًุง ุบَُْููุฑًุง
Bertasbih kepada-Nya Langit tujuh dan bumi dan semua yang ada di dalamnya dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka(…..) sesungguhnya dia adalah maha penyantun maha penyayang
(Al-Isra 17: Ayat 44 )
Maka Manusialah, yang diciptakan dalam kesempurnaan bentuk dan akal, sesungguhnya adalah satu-satunya makhluk yang dianugerahi kemampuan untuk berdzikir ( Ingat Allah ).Inilah martabat tertinggi yang membedakannya dari ciptaan seluruh makhluk lainnya dan alam semesta.
Sementara para malaikat, semesta raya, dan semua makhluk hidup lainnya hanya mampu bertasbih memuji Allah atas kodrat-Nya, manusia diberi karunia untuk mengingat, merenung, dan memanggil nama-Nya serta dapat berdialog di dalam dirinya dalam kesadaran penuh (Sidratul muntaha).
Namun, sungguh ironis, justru manusia yang paling sempurna ini terjerat dalam keraguan dan kebodohan ketidak percayaannya.
Padahal, dalam hakikatnya, derajat seorang manusia yang berdzikir adalah jauh lebih mulia dan agung daripada ciptaan lainnya. Kemuliaan ini pula yang menjadi isyarat mengapa ia diciptakan dengan kedua "Tangan" Allah (sebagai ungkapan keistimewaan dan perhatian langsung-Nya),
َูุงَู ٰูุٓงِุจِْْููุณُ ู َุง ู ََูุนََู ุงَْู ุชَุณْุฌُุฏَ ِูู َุง ุฎََْููุชُ ุจَِูุฏََّูۗ ุงَุณْุชَْูุจَุฑْุชَ ุงَู ْ ُْููุชَ ู َِู ุงْูุนَุงَِْููู
Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” ( Shad 38: Ayat 75 )
Adapun Amanah agung sebagai pancaran (tajalli) Ilahi hanya dapat dirasakan dan diraih melalui Jalan Tarekat (Spiritual).
Mengapa? Sebab, Jalan Tarekat diawali dengan proses penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs). Allah Yang Maha Suci, hanya berkenan ditemui oleh jiwa-jiwa yang telah dimurnikan dari segala noda dan kotoran duniawi.
Namun, upaya penyucian jiwa ini merupakan sebuah perjuangan (jihad) yang hakiki, yaitu melawan gejolak hawa nafsu yang senantiasa menyesatkan.
Hal ini sejalan dengan sabda mulia Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang setelah usai dari Perang Badar,
Beliau bersabda:
Kita baru kembali dari sebuah perang kecil, menuju kepada perang yang lebih besar.”
Lalu para sahabat bertanya, “Perang apakah itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Perang melawan hawa nafsu.
Inilah peperangan yang sesungguhnya perjuangan tanpa henti dalam diri yang harus dimenangkan untuk mencapai kemurnian dan menunaikan Amanah sejati.
َูุงَّูุฐَِْูู ุฌَุงَูุฏُْูุง َِْูููุง ََْูููุฏََُِّูููู ْ ุณُุจََُููุงۗ َูุงَِّู ุงَّٰููู َูู َุนَ ุงْูู ُุญْุณَِِْููู
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta dengan orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)
ٰูุٓงََُّููุง ุงْูุงِْูุณَุงُู ุงََِّูู َูุงุฏِุญٌ ุงِٰูู ุฑَุจَِّู َูุฏْุญًุง َูู ُِِْٰููููۚ
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, sungguh sungguh kerja keras maka akan menemui-Nya."
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 6)
ุงَِِّْูููٓ ุงََูุง ุงُّٰููู َูุงٓ ุงَِٰูู ุงَِّูุงٓ ุงََูุง۠ َูุงุนْุจُุฏِْْููۙ َูุงَِูู ِ ุงูุตَّٰููุฉَ ِูุฐِْูุฑِْู
Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingatKu
( Thaha 20:Ayat 14 )
Ayat ini bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah realitas yang hanya dapat dirasakan oleh pribadi yang telah mencapai keadaan Fana fillah (peleburan diri dalam ketuhanan ). Tanpa pemahaman dan kesadaran spiritual yang mendalam, sangat berbahaya dan bisa tersesat menyimpulkan ayat ini….
Adapun dirikanlah shalat" di sini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar berdiri secara fisik. Ia berarti menjadikan shalat sebagai hakikat diri kita (Aแนฃ-แนขalatu Daimun) yaitu salat yang berkelanjutan, terus-menerus, dan abadi di dalam jiwa.
Inilah yang dimaksud dengan Shalat sebelum Shalat, Shalat di dalam Shalat, dan Shalat sesudah Shalat.
Maka jika telah mengaku Muslim sejati , tetapi belum berusaha mencapai kesadaran ruhaniah yang mendalam ini, maka keislamannya barulah sebatas pengakuan lisan belaka.
Padahal, Allah telah berfirman:
ٰูุٓงََُّููุง ุงَّูุฐَِْูู ุงٰู َُููุง ุงุชَُّููุง ุงَّٰููู ุญََّู ุชُٰููุชِูٖ ََููุง ุชَู ُْูุชَُّู ุงَِّูุง َูุงَْูุชُู ْ ู ُّุณِْูู َُْูู
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102)
Maka, janganlah merasa paling Islam hanya karena telah melaksanakan shalat lima waktu. Marilah terus berjuang untuk menaikkan iman dan penyerahan diri kepada tingkat Muslim yang sebenar-benarnya.
Kesimpulan:
Maka, untuk mengembalikan Kesadaran Diri (Al-Ruh) yang telah lupa, memulihkan Ingatan akan Janji Sakral ( Al- A'raf 7: 172 ) serta mencapai kesucian diri yang paripurna agar jiwa menjadi wadah yang layak bagi Cahaya Ketuhanan Tajalli Allah pada diri Insan,
Maka wajiblah bagi setiap hamba untuk menapaki dan menempuh Jalan Tarekat (Perjalanan Spiritual) sesudah menjalankan Syariat ( Ibadah Ritual ), sebagai kedua jalan menuju keutuhan dan mengenali diri yang sejati.
๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Komentar
Posting Komentar