MENGEMBALIKAN KESAKRALAN MANUSIA

Bismillahirrahmanirrahim

Mengembalikan Kesakralan Manusia

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang sakral, suci, dan sempurna di antara seluruh ciptaan-Nya. Kesempurnaan ini termaktub jelas dalam firman-Nya:

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadiannya dan telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud. Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama.” (Q.S. Al-Hijr: 29-31)

Penciptaan yang mulia ini menempatkan manusia sebagai pusat penghormatan, di mana malaikat pun bersujud.

Mengapa Manusia Terjatuh dan Kehilangan Kesakralan?

Lalu, apa yang menyebabkan manusia menjadi pendosa, berpaling, dan seolah terlempar jauh dari hadirat Tuhannya, sehingga kesakralan itu memudar?

Jawabannya terletak pada kecenderungan fitrah manusia yang pelupa dan lalai.

Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi: 28)

Allah menguji kita dengan bekal akal dan nafsu. Ketika manusia mengikuti gelombang hawa nafsu yang condong kuat pada pesona dan perhiasan dunia saat itulah ia terlalaikan dari Tuhannya. 

Keterlemparan inilah yang mengikis kesakralan di sisi-Nya.

Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiya: 35)

Ujian ini mencakup segala aspek kehidupan, baik kesenangan maupun kesengsaraan, kecukupan maupun kekurangan:

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

Inilah medan ujian yang kerap membuat jiwa lalai dan lupa akan tujuan hakikinya.

Jalan Kembali Menuju Kesucian

Untuk mengembalikan kesakralan dan kemuliaan di sisi Allah

langkah awal yang harus diambil adalah kesadaran murni sebagai seorang hamba. wajib menyadari bahwa sudah sepatutnya kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya, bukan lagi memperhamba hawa nafsu.

Nafsu memiliki tingkatan atau maqam. Jika manusia dibiarkan mengikuti nafsu yang cenderung pada dunia (nafsu amarah), maka ia akan terus terlempar. Di sinilah letak pentingnya penyucian jiwa.

Penyucian ini bertujuan membersihkan nafsu yang kotor dan membangkitkan nafsu yang mulia—nafsu yang rindu dan tenang di hadirat Ilahi. Jalan spiritual Tarekat inilah yang berperan sebagai pembersih jiwa, tuntunan untuk mengendalikan hawa nafsu yang liar, dan membangunkan potensi kesucian yang terpendam, agar kita kembali kepada fitrah yang sakral.

Untuk mengembalikan kesakralan 

Untuk mengembalikan kesakralan diri, kita harus memahami medan pertempuran utama: yaitu Nafsu 

Nafsu sebagai energi jiwa yang memiliki tingkatan (maqam).

Nafsu diibaratkan sebagai kuda liar yang harus dijinakkan dan diarahkan. Tujuan perjalanan ini adalah mengubah nafsu yang menarik kita ke bumi menjadi nafsu yang mengangkat kita menuju langit.

Ada Tiga Nafsu yang Cenderung ke Dunia (Sifat Dasar Manusia)

Tiga tingkatan nafsu ini adalah yang paling aktif dan dominan sejak awal kehidupan, membawa manusia pada ketergelinciran:

1.Nafsu Ammarah- (Nafsu yang Memerintah pada Kejahatan): adalah nafsu terendah, Ia sepenuhnya dikuasai oleh dorongan hewani, egois, dan syahwat. Jiwa terasa gelap dan kotor.

Jalan Kembali: Membutuhkan mujahadah (perjuangan keras) dan taubat yang sungguh-sungguh.

2.Nafsu Lawwamah- (Nafsu yang Mencela): adalah permulaan kesadaran. Manusia mulai melakukan kebaikan, tetapi sering jatuh kembali ke dosa. Ada pertarungan batin antara kebaikan dan keburukan. Jiwa mulai mencela diri sendiri setelah berbuat salah.

Jalan Kembali: Membutuhkan pembersihan jiwa  dan istiqomah dalam ibadah.

3.Nafsu Mulhamah (Nafsu yang Mendapat Ilham): Nafsu ini sudah menerima ilham, bisa membedakan antara yang baik dan buruk, tetapi masih rentan terhadap godaan. Kebaikan dilakukan dengan kesadaran, tetapi terkadang masih dicampuri motif ego.

Jalan Kembali: Membutuhkan riyadhah (latihan spiritual) untuk menguatkan ilham kebaikan.

Empat Nafsu yang Cenderung ke Akhirat (Pencapaian Spiritual)

Empat tingkatan ini adalah tujuan spiritual yang harus diupayakan dan dibangunkan melalui disiplin spiritual dalam Tarekat dan Suluk

4.Nafsu Muthmainnah (Nafsu yang Tenang): inilah maqam ketenangan sejati. Jiwa telah menemukan kedamaian karena ridha terhadap ketetapan Allah dan hati sepenuhnya mantap dalam mengingat-Nya. Ini adalah derajat yang dipanggil-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (Q.S. Al-Fajr: 27-28)

Jalan Kembali: Mencapai kesempurnaan dalam tawakkal dan zikir.

5.Nafsu Radhiyah- (Nafsu yang Ridha): Bukan hanya tenang, jiwa ini sudah ridha dengan segala takdir, baik dan buruk. Ia melihat hikmah di balik setiap kejadian dan tidak pernah mengeluh.

6.Nafsu Mardhiyah- (Nafsu yang Diridhai): Pada tingkatan ini, keridhaan tidak hanya datang dari hamba, tetapi juga dari Allah. Hamba telah mencapai derajat kedekatan yang istimewa.

7.Nafsu Kamilah / Ubudiyyah- (Nafsu yang Sempurna/Murni): Tingkat tertinggi. Jiwa telah mencapai kemurnian total, bebas dari segala noda ego. Ini adalah maqam para Nabi, Rasul, dan pewaris spiritual sejati yang kembali menyandang kesakralan sempurna sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi.


Kesimpulan Inti:

Kesakralan manusia hilang saat kita berhenti di tingkatan nafsu dasar. Tugas kita adalah menggunakan akal dan tuntunan agama untuk membersihkan tiga nafsu terbawah dan membangunkan empat nafsu teratas, sehingga jiwa kita kembali tenang, ridha, dan dimuliakan di sisi-Nya.

Namun untuk mΓ©ngembalikan kesakralan itu kita wajib menemukan pembimbing Ruhani yang sebagai Guru ( Waliya mursyida ) untuk di zaman sekarang sebagai pewaris mutlak kenabian dan kerasulan  ,karena zaman nabi sudah terlewatkan, dialah sebagai Ulama pewaris nya. 

𝐃𝐀𝐑𝐔𝐋 𝐍𝐔𝐑 𝐇𝐔𝐃𝐀 π’π‡πŽπ‹π„π‡πˆπ€π‡


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKRIFAT SEJATI

TINGKATAN MAQOM MAKRIFAT

SAMUDRA ILMU