MENANGKAP WAHYU YANG AKTUAL
Bismillahirrahmanirrahim
Mengaktifkan wahyu yang pasif menjadi aktif
Salah satu keutamaan dari keutamaan lainya dari menempuh jalan Tarekat (atau jalan spiritual) adalah kemampuan untuk mengaktualisasikan wahyu yang bersifat pasif menjadi aktif dan hidup.
Al-Qur'an sebagai Wahyu Tertulis (kitab) adalah pasif dalam maknanya yang diam. Untuk dapat mengakses kedalaman dan kebenarannya yang hakiki, seorang salik (hamba yang menempuh jalan spiritual) dituntut untuk mampu menjalin "kalamullah"—berkomunikasi atau berdialog secara batiniah dengan Tuhan.
Melalui komunikasi batin inilah, setiap ayat, setiap firman, dapat terkonfirmasi kebenarannya dan terbuka maknanya dalam pengalaman spiritual sang hamba.
Inilah pula yang menjadi warisan dan metode para Nabi. Meskipun setelah wafatnya seorang Nabi, umat berikutnya menerima Kitab (wahyu tertulis), para Nabi sendiri senantiasa mencari dan memastikan kebenaran dengan cara berkomunikasi langsung dengan Tuhan, menjadikan wahyu sebagai sumber yang terus-menerus aktif dan mengalir.
Dengan bertarekat, seorang hamba bukan sekedar membaca Kitab, melainkan menghidupkan percakapan abadi yang terus menerus didalam batin ,karena seorang salik yang telah mampu ber kalam kalam dengan khalik atas bimbingan mursyidnya sebagai pewaris para nabi dan Rasul yang terus selalu terupgrade dalam setiap masa.
Komentar
Posting Komentar