MEMBONGKAR DOGMA PARADIGMA AGAMA
Menerobos Dogma dan Menyelami Hakikat Agama.
Menafsirkan Ulang Kisah Isra Mi'raj
Banyak pandangan umum yang populer meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW melaksanakan Isra Mi'raj menggunakan kendaraan bernama Buraq, yang digambarkan sebagai kuda bersayap. Pemahaman ini, yang tersampaikan dalam bentuk narasi syariat (kisah lahiriah), bukanlah sebuah kekeliruan, namun ia belum sepenuhnya menyentuh inti hakikat yang tersembunyi.
Secara esensial, makna Buraq adalah berkah atau keberkahan. Hal ini ditelusuri dari firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1 yang berbunyi ( bΔrakna haulahΕ«) (Kami berkahi sekelilingnya...) kata ( bΔrakna) inilah yang diyakini sebagai akar kata yang kemudian disingkat menjadi Buraq.
Simbolisme Kuda dan Sayap
Lalu, apa makna sesungguhnya dari penggambaran kuda bersayap?
Kuda sebagai Isra' (Perjalanan Spiritual)
Kuda melambangkan kendaraan darat perjalanan untuk menempuh jarak dengan empat kaki. Empat kaki ini menyimbolkan kesempurnaan (kΔffah) dalam pengamalan agama, yaitu empat tingkatan ilmu spiritual: Syariat, Tarikat, Hakikat, dan Makrifat. Kuda, secara fungsi, adalah lambang kendaraan yang menempuh perjalanan ini.
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa memiliki makna tersendiri:
* Masjidil Haram adalah simbol tempat suci (permulaan ibadah/diri).
* Masjidil Aqsa secara harfiah berarti "yang paling jauh".
* Masjid sendiri bermakna tempat bersujud atau menghambakan diri.
Oleh karena itu, perjalanan antara dua masjid ini dimaknai sebagai perjalanan suci yang jauh (Isra') untuk menempuh dimensi hakikat hingga mencapai tingkatan Makrifat. Setelah itu, Nabi pun Mikraj (terbang) dengan sayap.
Sayap, sebagai alat untuk terbang, melambangkan kenaikan spiritual yang membawa Nabi Mikraj hingga mencapai Sidratul Muntaha menyiratkan makna filosofis yang sangat dalam.
Istilah Sidratul Muntaha dapat diuraikan maknanya:
* Sidrah diartikan sebagai kesadaran atau sadar.
* Muntaha berarti puncak tertinggi atau batas akhir.
Di puncak tertinggi ini, Nabi Muhammad SAW mencapai kesadaran terdalam tentang dirinya. Ini bukanlah perjalanan ke langit secara ragawi dengan kuda bersayap (gambaran syariat), melainkan sebuah perjalanan batin (ruhani). Ketinggian yang dimaksud adalah kesadaran bahwa hakikat yang selama ini dicari (rahasia ketuhanan) tidaklah jauh, melainkan berada di dalam Diri-Nya sendiri. Ini adalah momen kefanaan seorang yang telah mencapai puncak kosong namun isi, makna isi adalah kesadaran dalam Pemahaman yang mendalam menyelami kedalaman batin, dan menemukan rahasia rasa ketuhanan itu sendiri. Sebuah pernyataan dalam hadis qudsi,
( Al insanu sirri waana sirruhu, Manusia itu rahasiaku dan akulah rahasianya )
Lalu ada pernyataan Malaikat Jibril berkata: "Sungguh, bila aku melangkah satu depa saja, aku akan musnah, binasa, hancur lebur."
Makna hakikat dari binasa atau lebur ' di sini adalah bahwa di titik tertinggi Sidratul Muntaha yang dicapai oleh Nabi, yang terjadi adalah hilangnya segala bentuk keakuan, ego, atau diri yang bersifat makhluk. Di momen tertinggi itu, hanya tinggal Diri Sejati yang Esa (Tunggal), tiada yang lain. Jibril, sebagai entitas perantara, tidak dapat melampaui batas keesaan tersebut; ia harus binasa (melebur) agar tercapai Tauhid yang murni dan sejati.
Jadi Isra Mi'raj bukanlah sekedar sebuah kisah atau catatan sejarah belaka yang hanya menjadi cerita dari masa ke masa bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Sebaliknya, sebagai umatnya, kita seyogyanya mewarisi dan mesti mengalami esensi dari peristiwa spiritual yang sama, meskipun dalam bentuk dan keadaan yang berbeda.
Inilah mengapa Nabi Muhammad SAW bersabda:
Shalat adalah mi'rajnya orang-orang Mukmin."
Sabda ini menegaskan bahwa pengalaman Mikraj pertemuan dengan hakikat ketuhanan dapat dicapai secara berulang oleh setiap Mukmin melalui Shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan.
Namun untuk mencapai derajat khusuk jalannya adalah( Thoriqoh ).
Thoriqoh adalah sebuah perjalanan spiritual (suluk) yang ditempuh oleh seorang salik (penempuh jalan) untuk mencapai derajat kedekatan (wushul) kepada Ilahi (Tuhan).
Metode utama dalam perjalanan ini adalah zikrullah (mengingat Allah), yang berfungsi sebagai kunci dan media koneksi dengan Ilahi.
Zikir ini harus dilakukan secara istiqomah (konsisten) dan tak terbatas, sepanjang jantung masih berdetak dan setiap nafas berhembus.
Dalam Thoriqoh, zikir memiliki jalan dan tingkatan yang berfungsi sebagai pondasi dan pegangan di alam batin atau alam gaib yang terbentang luas.
Oleh karena itu, dzikir adalah lentera penerang di tengah kegelapan spiritual.
Hubungan ini juga tercermin dalam shalat, yang diibaratkan sebagai Mi'raj (perjalanan spiritual) menuju puncak tertinggi Sidratul Muntaha. Untuk mencapai puncak ini, seseorang harus menapaki jalannya dengan cahaya zikrullah.
Maka, shalat memiliki dimensi zahir dan batin:
Zahir (Luar): Berupa ritual gerakan dan bacaan.
Batin (Dalam): Menyelami kedalaman diri dengan berzikir (mengingat Allah) di setiap gerak ritualnya.
Inilah yang memberikan makna kesakralan pada ibadah tersebut, dan inilah hakikat dari khusyu yang sebenarnya.
πππππ πππ ππππ πππππππππ
Komentar
Posting Komentar