HAKIKAT DIADAKAN MANUSIA
Bismillahirrahmanirrahim
Manusia tidak sekadar dihidupkan, melainkan diadakan sebagai sebuah manifestasi kehendak Ilahi. Tujuan inti dari eksistensi ini adalah mencapai Musyahadah, yaitu menyaksikan dan mengenal hakikat Sang Maha Qadim, Sang Pencipta. Melalui kreasi-Nya yang agung, Sang Pencipta berkehendak untuk dikenal dan dipuji, sebab hanya bagi-Nya-lah segala puji.
Untuk tujuan tersebut, diwujudkanlah entitas yang terpuji, Nur Muhammad-cahaya pertama-yang menjadi saksi utama atas segala manifestasi (ciptaan) lainnya.
Proses perwujudan ini terus berlanjut dan berulang dalam setiap masa/ zaman hingga kini.
Sosok Muhammad yang terlahir di dunia adalah manifestasi sempurna dari hakikat itu, sebagai bayi kecil yang maksum (fitrah). Esensi hakikat ini sesungguhnya bersemayam dalam diri setiap manusia. Namun, banyak yang gagal mencapai Musyahadah, bahkan mengingkari esensi hakikat mereka, disebabkan oleh ujian hidup di dunia yang fana ini, sebuah sandiwara dari kehendak Ilahi.
Maka, Sang Maha Qadim memberi waktu yang sangat terbatas,sekitar kurang lebih 1000 bulan (sekitar 83 tahun Al-Qadr ayat 3 ) sebagai estimasi umur manusia, agar sempat menyadari hakikat sejati dirinya diadakan. Karena manusia sangat lemah dan cenderung bodoh (lupa), Allah mengutus Guru Sejati Pembimbing, yaitu Nabi dan Rasul, sebagai utusan-utusan-Nya.
Nabi dan Rasul hadir sebagai dualitas yang berbeda namun memiliki fungsi yang sama sebagai utusan, meski membawa misi dan visi yang berbeda dalam pembinaan.
1.Jejak Nabi membentuk agama sebagai pondasi hukum dan syariat (aturan formal).
2.Jejak Rasul menetapkan hikmah dalam kebijaksanaan sebagai penyeimbang dan inti pemahaman hukum.
Dualitas antara hukum (syariat) dan hikmah (hakikat) inilah yang harus diterapkan oleh manusia dalam setiap aspek kehidupan sebagai jalan menuju Musyahadah yang sejati.
Untuk bentuk pertanggung jawaban atas tulisan dan dakwah ini kami cantumkan No yang dapat dihubungi
Komentar
Posting Komentar