AMANAH TUHAN YANG AGUNG YANG DI PIKUL OLEH MANUSIA
Allah berfirman:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh. Surah Al-Ahzab ayat 72
Ayat ini merekam sebuah kisah kosmik yang menggetarkan jiwa.
Ketika Amanah Agung itu ditawarkan, langit membisu, bumi bergetar, dan gunung-gunung pun menunduk dalam kekhawatiran. Mereka menolak memikulnya, takut akan pengkhianatan.
Namun, Amanah itu kini berada di pundak kita Manusia.
Wahai diri, dalam keheningan hati, renungkanlah, apakah sesungguhnya Amanah yang sangat ditakuti alam semesta itu?
Jika kesadaran berkata 'tidak tahu' atau, yang lebih parah, 'tidak peduli' maka peringatan ayat itu pantas terasa menghujam kepada diri yang telah berlaku zalim dan bodoh terhadap potensi dan takdir agung yang Allah titipkan.
Maka Bagi yang telah berikrar, Mengaku Islam, maka memahami hakikat Amanah ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban mendasar yang sangat sentral.
Inilah esensi pentingnya kita tak henti memohon untuk diteguhkan di atas Jalan yang Lurus
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, (Al-Fatihah ayat 6)
. وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ
Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (Thoriqoth ), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak. . ( Al-Jin Ayat 16)
Ayat di atas dalam surah Al- Fatihah ayat ke 6 adalah berisi “Doa’ permohonan hamba. dan jawaban Tuhan kepada hamba atas “Doa” dan permohonan itu telah disampaikan pada surat Al-Jin ayat 16 tersebut saat kita memohon meminta kepada Tuhan ingin ditunjuki jalan yang lurus ,maka Allah” jawab” jalan lurus itu adalah Thoriqoth.
ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
Kemudian, Kami jadikan engkau mengikuti Syariat dari urusan itu. Maka, ikutilah ia dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Syariat adalah, undang-undang suci, aturan, hukum, dan tata cara ibadah lahiriah yang menuntun gerak-gerik tubuh dan kehidupan sosial.
Ia adalah wujud kepatuhan jasmani: Menjaga shalat, menunaikan zakat, dan memelihara seluruh perintah-Nya. Syariat memastikan bahwa langkah kaki dan lisan kita berjalan di atas rel ketetapan Ilahi.
Thoriqoth Jalan Spiritual adalah dimensi yang jauh lebih dalam, sebuah perjalanan sunyi menuju pusat hati. Ia adalah ajaran yang fokus pada penyucian jiwa Ia adalah wujud kepatuhan ruhani, berjuang keras untuk membersihkan hati dari segala sifat buruk dan penyakit batin (seperti riya', ujub, hasad, dan kesombongan). Thoriqoth berfungsi sebagai saringan, memastikan bahwa setiap ibadah lahiriah yang kita kerjakan benar-benar murni.
Dengan menjalankan Syariat sebagai jalan tubuh dan Thoriqoth sebagai jalan ruh, barulah kita dapat mengklaim telah berusaha mengamalkan ajaran agama secara sempurna dan menyeluruh (Kaffah).
Sebab, hanya dengan kesungguhan di dua jalan itu, kita terhindar dari kezaliman terhadap diri sendiri dan pengabaian hak Sang Pencipta.
Setelah perenungan ini, sudahkah jiwa dan akal tersentuh dan menemukan jawaban atas Amanah Ilahi ini..?
Jika sudah Mari bergabung bersama kami dalam bimbingan Thoriqoth Naqsyabandiyah dengan menghubungi kami:
Komentar
Posting Komentar